Pameran buku yang diselenggarakan di Istora Senayan Jakarta dan berlangsung dari tanggal 3-11 Maret ini diberi title Indahnya Syariah Dalam Kehidupan. Sudah menjadi kelaziman bahwa setiap diadakan Islamic Book Fair gaungnya lebih besar dari pada Indonesia Book Fair dari segi pengunjung maupun stand yang ada.
Selain diadakan pameran buku, di panggung utama (tempat biasanya dipakai gelanggang olah raga dan biasa dipakai petinju Kris Jhon) diadakan acara bedah buku maupun talk show. Buku-buku yang dijual juga beragam dari mulai yang bertemakan keluarga, pemikiran, sampai jihad fi sabilillah. Namun yang paling laku masih buku-buku yang bertemakan keluarga, tazkiyatun nafsi maupun novel-novel Islami.
Ada fenomena menarik bahwa sekarang novel-novel anti zionisme laris manis. Bahkan, penerbit Al-Kautsar yang biasanya concern dalam memerangi aliran sesat—seperti buku-buku karangan Hartono Jaiz—juga ikut menerbitkan buku seperti ini. Di display paling utama ada buku "Lady Di The Conspiracy" karangan Indra Adil yang bercerita tentang konspirasi zionis dalam pembunuhan Lady Diana. Novel tersebut diproduksi dalam dua pilihan, soft cover dan eksklusive yang menampilkan foto-foto cantik Ladi Di. Shanaz Haque—presenter dan pemain sinetron—tidak mau ketinggalan dan membeli edisi eksklusive dari novel tersebut.
Ada juga stand jihad yang didesain sedemikian rupa sehingga memberi kesan angker. Dengan backgroun hitam dan merah darah serta di depannya disediakan televisi yang memutar film-film motivasi untuk jihad. Buku-buku yang diterbitkan juga tidak jauh dari tema jihad. Bahkan, buku yang berjudul "Jihad" menjadi best seller dan unggulan penerbit ini. Padahal, penerbit ini bernama AR-Rahmah yang artinya kasih sayang sangat kontras dengan buku dan cd yang diproduksinya.
Tuesday, July 10, 2007
Kapan Indonesia Bisa Memproduksi Buku Murah?
Ketika menjelajah stand-stand di Islamic Book Fair, terkadang beberapa pengunjung ada yang sengaja mencari buku murah. Motifnya tentu mereka ingin membaca dan menambah ilmu tapi apa daya kantong cekak.
Memang pameran buku adalah moment yang tepat untuk menjual buku murah, sebab buku yang diproduksi oleh penerbit tidak melalui jalur distributor yang mentolo dalam meraup keuntungan. Bayangkan, toko-toko besar umumnya meminta keuntungan 40-60%. Jika sebuah buku, misalnya di Gramedia, berbandrol Rp. 50.000,00 berarti penerbit menjual buku tersebut ke distributor dengan harga Rp. 20.000,00 sampai 30.000,00 sesuai kesepakatan. Artinya, buku-buku menjadi sangat mahal karena distributor terlalu besar mengambil keuntungan.
Terkadang kita heran, kenapa Indonesia negara penghasil kertas tetapi harga buku justru mahal? Sedangkan di Mesir yang kertas masih impor dari negara, buku di sana dijual murah? Sebagai ilustrasi, di Indonesia buku setebal 300 halaman soft cover dibandrol sekitar Rp. 30.000. Padahal di Mesir dengan ketebalan seperti itu dibandrol sekitar 8 Pounds Mesir atau sekitar Rp. 15.000. Kenapa buku di Indonesia yang masyarakatnya 20% lebih di bawah angka kemiskinan, masih mahal? Kalau demikian, kapan negara kita bisa maju?
Jawabnya, banyak faktor yang menyebabkan hal itu. Seperti diterangkan peran distributor yang terlalu banyak mengambil untung, biaya produksi yang tinggi juga tidak ada kepedulian pemerintah dalam hal ini. Ironisnya, buku-buku pelajaran yang merupakan buku konsumsi "wajib" bagi para anak sekolah dijual sangat mahal. Dengan kertas yang tidak bagus—terkadang memakai kertas buram—covernya juga biasa saja tetapi harganya sangat mahal. Isunya, kondisi seperti ini disebabkan pemain buku pelajaran harus mengeluarkan uang sogokan kepada pihat terkait agar buku yang diproduksinya menjadi "kurikulum wajib" di sekolahan. Wallahu A'lam.
Sebagai perbandingan, di Mesir—tempat penulis menimba ilmu di sana selama empat tahun—pemerintah mempunyai kebijakan untuk memasarkan buku murah yang terkenal dengan program "Mahrajan Al-Qiraah" (Pameran baca buku). Setiap bulannya tidak kurang dari 10 buah buku didistribusikan ke toko buku milik pemerintah maupun lapak-lapak penjual koran dan majalah. Kebanyakan buku yang sangat ilmiah dan dijual sangat murah. Misalnya Rasail Ibnu Rusyd fi Ath-Thibb (Surat-surat Ibnu Rusyd dalam hal kedokteran) sekitar 2000 halaman dijual 10 ribuan.
Pihak swasta di sana juga punya kepedulian yang sama, misalnya Al-Azhar—yayasan yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan agama—menerbitkan buku-buku saku maupun majalah dengan harga yang sangat terjangkau sehingga masyarakat dengan kantong tipis juga bisa menikmatinya. Padahal, kalau kita cermati perekonomian Mesir dengan Indonesia tidak beda jauh. Apalagi Jakarta yang berdiri mal-mal megah, Anda tidak akan pernah menjumpai mal-mal seperti itu di Mesir—kota tua namun pendidikan dijunjung tinggi.
Memang pameran buku adalah moment yang tepat untuk menjual buku murah, sebab buku yang diproduksi oleh penerbit tidak melalui jalur distributor yang mentolo dalam meraup keuntungan. Bayangkan, toko-toko besar umumnya meminta keuntungan 40-60%. Jika sebuah buku, misalnya di Gramedia, berbandrol Rp. 50.000,00 berarti penerbit menjual buku tersebut ke distributor dengan harga Rp. 20.000,00 sampai 30.000,00 sesuai kesepakatan. Artinya, buku-buku menjadi sangat mahal karena distributor terlalu besar mengambil keuntungan.
Terkadang kita heran, kenapa Indonesia negara penghasil kertas tetapi harga buku justru mahal? Sedangkan di Mesir yang kertas masih impor dari negara, buku di sana dijual murah? Sebagai ilustrasi, di Indonesia buku setebal 300 halaman soft cover dibandrol sekitar Rp. 30.000. Padahal di Mesir dengan ketebalan seperti itu dibandrol sekitar 8 Pounds Mesir atau sekitar Rp. 15.000. Kenapa buku di Indonesia yang masyarakatnya 20% lebih di bawah angka kemiskinan, masih mahal? Kalau demikian, kapan negara kita bisa maju?
Jawabnya, banyak faktor yang menyebabkan hal itu. Seperti diterangkan peran distributor yang terlalu banyak mengambil untung, biaya produksi yang tinggi juga tidak ada kepedulian pemerintah dalam hal ini. Ironisnya, buku-buku pelajaran yang merupakan buku konsumsi "wajib" bagi para anak sekolah dijual sangat mahal. Dengan kertas yang tidak bagus—terkadang memakai kertas buram—covernya juga biasa saja tetapi harganya sangat mahal. Isunya, kondisi seperti ini disebabkan pemain buku pelajaran harus mengeluarkan uang sogokan kepada pihat terkait agar buku yang diproduksinya menjadi "kurikulum wajib" di sekolahan. Wallahu A'lam.
Sebagai perbandingan, di Mesir—tempat penulis menimba ilmu di sana selama empat tahun—pemerintah mempunyai kebijakan untuk memasarkan buku murah yang terkenal dengan program "Mahrajan Al-Qiraah" (Pameran baca buku). Setiap bulannya tidak kurang dari 10 buah buku didistribusikan ke toko buku milik pemerintah maupun lapak-lapak penjual koran dan majalah. Kebanyakan buku yang sangat ilmiah dan dijual sangat murah. Misalnya Rasail Ibnu Rusyd fi Ath-Thibb (Surat-surat Ibnu Rusyd dalam hal kedokteran) sekitar 2000 halaman dijual 10 ribuan.
Pihak swasta di sana juga punya kepedulian yang sama, misalnya Al-Azhar—yayasan yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan agama—menerbitkan buku-buku saku maupun majalah dengan harga yang sangat terjangkau sehingga masyarakat dengan kantong tipis juga bisa menikmatinya. Padahal, kalau kita cermati perekonomian Mesir dengan Indonesia tidak beda jauh. Apalagi Jakarta yang berdiri mal-mal megah, Anda tidak akan pernah menjumpai mal-mal seperti itu di Mesir—kota tua namun pendidikan dijunjung tinggi.
Subscribe to:
Posts (Atom)